19 5 / 2013

seorang kawan, dalam doa dan salamnya
di berlalunya seperempat abad usiaku
kembali mengenangkanku sebuah kaidah
“bencilah kesalahannya,
tapi jangan kau benci orangnya.”

betulkah aku sudah mampu begitu
pada saudaraku, pada keluargaku
pada para kekasih yang kucinta?
saat mereka terkhilaf dan disergap malu
betulkah kemaafanku telah tertakdir
mengiringi takdir kesalahan mereka?

tapi itulah yang sedang kuperjuangkan
dalam tiap ukhuwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadi saksinya
karena aku tahu, bahwa terhadap satu orang
aku selalu mampu membenci luputnya
tapi tetap cinta dan sayang pada pelakunya
itulah sikapku selalu, pada diriku sendiri

kucoba cerap lagi kekata asy syafi’i
“aku mencintai orang-orang shalih”
begitu katanya, diiringi titik air mata
“meski aku bukanlah bagian dari mereka
dan aku membenci para pemaksiatNya
meski aku tak berbeda dengan mereka.”

ya.. mungkin dia benar
tapi dalam tiap ukhuwwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadi saksinya
aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi

karena tiap orang beriman tetaplah rembulan
memiliki sisi kelam,
yang tak pernah ingin ditampakkannya pada siapapun
maka cukuplah bagiku
memandang sang bulan
pada sisi cantik yang menghadap ke bumi

tentu, tanpa kehilangan semangat
untuk selalu berbagi dan sesekali merasai
gelapnya sesal dan hangatnya nasehat
sebagaimana sang rembulan
yang kadang harus menggerhanai matahari

-Salim A. Fillah-

19 5 / 2013

Minggu ke-10.  Minggu ujian.

Minggu ke-9, nama-nama dosen penguji yang akan menguji dari hari senin-sabtu sudah diumumkan. Dan hari rabu adalah hari yang paling banyak dihindari oleh kami, koas PDL, mengapa? Karena di hari rabu sebagian besar pengujinya terkenal dengan “kemalaman” nya. Penguji di hari rabu yaitu dr.suprapti, dr.mediarti, dr.yenny, dr. ratna dewi, dr.nova kurnia, dr.dilla, dan dr.erwin azmar. Kata temen-temen penguji yang lumayan bonam itu tiga nama terkahir. Dan hari kamis adalah hari favorit untuk ujian, secara di hari kamis pengujinya “dewa” semua. hhe

Minggu ke-9 di hari sabtu merupakan penggoncangan hari apa kita akan ujian. satu hari itu ada 8 orang koas yang ujian. aku yakin, setiap orang dari kami pasti deg-deg an. Pertama goncang hari senin, nama aku gak keluar, selasa, gak keluar juga, *kayaknya kesempatan untuk ujian hari kamis besar ini, goncang hari rabu, pressurenya lebih tinggi lagi, sampe orang ke-5, nama aku juga belum keluar, namun nama ku keluar saat goncangan ke-6 di hari rabu. Yah, apa boleh buat. Aku udah berdoa semoga mendapatkan hari dan penguji yang terbaik. Semoga hari rabu adalah hari terbaik bagi ku untuk ujian. Aku berusaha tetap tenang. Saat penggoncangan hari rabu berakhir, ada dua orang teman ku yang menangis karena mendapat hari rabu.

Hari sabtu dan hari minggu, aku tetap tenang, tapi pressure ujiannya tetap tinggi. Tapi, saat hari senin, aku benar-benar melo, sisi melankolis aku keluar secara maksimal. Mungkin karena baru ngerasain sensasi ujian yang ditularkan oleh teman-teman yang ujian di hari senin. Benar-benar galau gak karuan, mewek aja kerjaannya, dan alhamdulillahnya ada mbak ella, yang sangat baik menampung kegundahan dan kegelisahan “adiknya” ini. Sedikit tenang, dan lebih tenang lagi setelah curhat dengan Allah.

Tiba lah hari H, hari rabu tepat jam 8 dilakukan pengundian penguji yang dilakukan oleh dr.nova kurniati. Ini jantung udah kayak mau copot aja, deg-degan nya kenceng bangeet. Saat nama-nama penguji siap diundi, aku putuskan untuk tidak mengambil hanya menunggu sisa undian, dan ternyata ayu juga berpikiran yang sama dengan ku. Jadi ya ada dua kertas undian yang tersisa, *otak ku berpikir keras, kertas mana yang sebaiknya aku ambil, aku putuskan yang aku ambil adalah kertas yang paling dekat dengan ku,*sesuai sunnah rasul, dan alhamdulillah aku mendapatkan penguji 1 dr.dilla, SpPD dan penguji 2 di Iin. Tanpa terasa pipi ku hangat oleh tetesan air yang keluar dari kelenjar lacrimal. Ini tangisan kelegaan dan kebahagiaan, kenapa karena penguji 1 nya lumayan bonam dan penguji 2 (residen) baik banget. Karena penguji 1 nya sedang ambil KKV, aku sangat yakin bahwa pasien ujian ku mengenai kardiologi. Aku langsung ke cardio dan menghubungi kakak residennya, dr,iin. “mbak, rizka ujian denga dr.dilla hari ini”. “wuah, ternyata rizka ya yang ujian sama mbak, ntar mbak hubungi dr.dillanya dulu ya”

TIbalah waktu ujian, “adek, mbak tunggu di paru ya sekarang”. Apa? pasien paru. Aku bener-bener gaka ada persiapan belajar tentang paru.  Buku PDL yang aku bawa pun yang jilid I dan II, sedangkan ilmu paru ada di jilid III. Karena perkiraan aku gak akan dapet pasien paru, secara penguji di hari rabu itu gak ada konsulent paru. Ya Allah, aku langsung shock, gak percaya, apa yang harus aku lakukan. Tapi, ya dengan modal khudznuzon pada Allah, aku pergi ke paru. Alhamdulillahnya, dr.dilla hanya menginstruksikan dr.iin untuk mencari pasien yang baru masuk hari rabu, enggak langsung ujian dihadapan dr.dilla. Jadi aku bisa ke pasiennya dulu: anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan masih bisa sedikit berdiskusi dengan mbak iin (mbak iin itu sepenuhnya berperan sebagai pembimbing dan penolong, gak ada peran penguji, Alhamdulillah). Pasien yang aku dapatkan adalah efusi pluera. Setelah itu buat status. Setelah selesai dr.iin menghubungi dr.dilla dan kami diinstruksikan untuk menunggu di ruangan echo, karena beliau masih melakukan echocardiograpy. Selama fase menunggu, aku langsung membaca buku Ilmu Penyakit Dalam jilid III yang aku pinjem dari temen. Kurang lebih 2 jam aku harus menunggu, seharusnya itu cukup untuk belajar. Namun, tetap aja yang lebih kerasa itu gugup nya. Jadi apa yang dibaca terasa lewat aja.

Akhirnya dr.dilla selesai. Aku memulai ujian. Namun, karena dr.dilla sepertinya letih, jadi aku ujian teori terlebih dahulu, padahal seharusnya ujian langsung ke pasien (anamnesis dan pemeriksaan fisik) dahulu. Dr. Dilla melihat status ujian ku, dan mulai bertanya banyak hal. Alhamdulillah ujian teorinya terlalui dengan baik, walaupun gak terlalu memuaskan.  Dan besok ujian langsung ke pasien. Aku benar-benar bertekad besok HARUS lebih baik dari hari ini.

Keesokan harinya, aku ujian anamnesis dan pemeriksaan fisik. Alhamdulillah hasilnya lebih baik dari hari kemarin dan lebih memuaskan. Pertolongan Allah yang aku rasakan sangat dekat. Banyak hal yang Allah bantu saat ujian langsung ke pasien ini. Alhamdulillah. Saat pemberian nilai, aku dinyatakan LULUS.

Setelah nilainya diakumulasikan pun, Alhamdulillah aku LULUS di PDL. Semua teman-teman ku yang 32 orang pun LULUS dari PDL. ALhamdulilah, kami segerbong LULUS dan berakhir happy ending. Saat awal sebagai koas PDL itu cukup menantang, dan gak mau jadi PPDS PDL, di akhir PDL itu menyenangkan dan cukup berminat menjadi PPDS PDL. Stase awal yang menyenangkan. ^^

Alhamdulillah. Ujian merupakan akhir dari perjalanan ku sebagai koas PDL. Banyak hal yang aku dapatkan selama menjadi koas PDL, mulai dari ilmu pengetahuan, skill, etika, persahabatan, dan hikmah-hikmah kehidupan. Semoga semuanya bermanfaat. Amiin ya Rabb.

Boleh jadi kamu tidak menyukaisesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada nya” Q.S An-Nisa 19.

18 5 / 2013

"Hargai kekhawatiran orang-orang yang sayang padamu, dengan memberi kabar pada mereka (bahkan akan lebih baik, bila tanpa diminta). Jangan malah mengomel ketika ditanya. Bersyukurlah, karena masih ada yang begitu peduli."

Tia Setiawati Priatna (via karenapuisiituindah)

(via aamaliagozali)

18 5 / 2013

18 5 / 2013

Kita begitu berlebihan pada segala hal bertema LDR dengan pasangan. Lalu, bagaimana dengan LDR dengan orang tua (ortu - red) kita sendiri?

Ketika sedang melangsungkan perjalanan ke sebuah kota, saya menulis beberapa pandangan saya terkait hal ini, dalam sebuah sosial media; Twitter. Begini…

(via desidyan)

18 5 / 2013

"Bilakah kunang-kunang itu benar-benar pergi, moga ia tak lupa menitipkan pendar cahayanya disini. Dihati ini. Untuk ia jemput kembali, dikemudian hari…."

Dee Ibrahim (via deedalamaksara)

18 5 / 2013

Boleh jadi kamu tidak menyukai tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kabeikan yang banyak pada nya. (Q.S An-Nisa 19).


Ayat ini itu menjadi penguat dan terbukti banget waktu aku masih menjadi koas PDL, khususnya saat pembuatan refrat.

Selama menjadi koas PDL itu ada beberapa kewajiban yang harus ditunaikan, yaitu Refrat dan Case. Refrat dikerjakan perindividu dan Case dikerjakan perkelompok, satu kelompok terdiri dari 2 orang. Setiap case dan refrat itu akan satu orang konsulen yang berperan sebagai dosen pembimbing kita.

Saat membaca pengumuman dosen pembimbing, ternyata ada sedikit kejanggalan. Urutan nama aku di lembar refrat enggak sesuai dengan urutan yang diabsensi. Dan ini hanya terjadi pada aku. Seharusnya jika sesuai urutan absensi, dosen pembimbing refrat aku adalah dr. Yusuf Hanafiah Pohan, Sp.P, tetapi karena urutannya berbeda, maka aku dibimbing oleh dr. Mediarty, Sp.PD, FINASIM, K-HOM, paggilan kecil beliau dr. mecy. Dari gosip yang beredar, katanya beliau itu *i***r dan agak sulit memberi nilai. OMG, awalnya itu membuat aku merasa gak adil, aku ingin semuanya sesuai urutan absen. Tapi, kembali mengingat ayat diatas, aku tetap berprasangka baik pada Allah. Setelah menjalani beberapa kali pertemuan dengan beliau, ternyata anggapan mengenai beliau yang bilang kalau beliau itu *i***r sama sekali gak bener, beliau baik, ramah, selalu senyum, senyuman beliau itu manis lho, dan sayang dengan murid2 nya. Terhadap pasien pun beliau full of mercy. Dan saat bed site teaching (salah satu agenda pembelajaran di PDL, meliputi peragaan anamnesis dan pemeriksaan fisik live ke pasien), beliau sangat baik. Dan satu lagi, beliau itu perfectionist. Mungkin karena sifat terakhir ini beliau dianggap *i***r, padahal sebenarnya enggak, kita cuma perlu berusaha lebih keras lagi. Enggak muna sih, setiap ketemu beliau itu pressurenya sedikit lebih tinggi, hhe.

Proses pertemuan kami itu ada sekitar 8-9 kali, mulai dari penentuan judul hingga kesimpulan. Beliau bener-bener teliti. Banyak hal yang harus benar-benar diperhatikan. Aku banyak mendapatkan pelajaran selama bimbingan dengan beliau.

Dan tibalah minggu ke-9 di PDL, refrat sudah selesai dan saat pemberian nilai. Jantung aku deg-degan gak karuan. Malam nya aku udah pasrah dan ikhlas kalo seandainya aku mendapatkan nilai refrat 75. Tapi, aku tetap berharap setidaknya bisa mendapat nilai 80. Soalnya penting untuk menunjang nilai ujian. Setidaknya bisa membantu aku untuk lulus di PDL.

Seperti biasa,aku nunggu di luar ruangan beliau. Menunggu kedatangan beliau, biasanya jam 1 beliau datang. Beliau datang, aku menegur+senyum , “siang dok”, beliau membalas senyum.

Kami berdua memasuki ruangan beliau:

Aku: “Ini dok refrat saya”

dr. mecy: “Oh, udah selesai ya, sekarang udah bagus ya refratnya”

Aku: senyum. “Ini dok lembar penilaiannya”

dr.mecy: “Kamu mau nilai berapa?”

aku: *dalam hati, waw, dr.mecy nanya gitu, kalo boleh sih nilainya 100 dok. tapi gak mungkin. “ehmm, terserah dokter, sesuai kemampuan saya  aja dok”. Hening sesaat. tiba-tiba mulut ini berbicara, ” kalo boleh dapet 90 dok, hhe”. Setelah ngomong gini, jantung aku tambah deg-degan takut beliau menganggap akau lancang.

dr. mecy: “wah, udah ketulis dek, 89 aja ya, 89 udah dapet A juga kan?”

Aku: Huwooo, dapet 89, alhamdulillah. ” iya dok, udah A”

dr.mecy: “kamu tau kan kenapa kamu dapet 89 bukan 90? Selama pembuatan refrat, kamu masih banyak kesalahan, terutama di tinjauan pustaka dan daftar pustaka”

Aku: “iya dok, gak apa-apa. Makasih ya dok atas bimbingan dan saran selam pembuatan refrat.” Senyum

dr.mecy: senyum

entah dapet keberanian dari mana aku ngomong gini

Aku; “dok, mohon doa ya, minggu depan saya ujian, deg-degan.”

dr. mecy: “oh, iya. kamu pasti lulus kok”

*waw, aku gak pernah membayangkan dokter mecy akan berkata bagitu.

Alhamdulillah ya Allah.
Kebahagiaann yang didapat saat itu sangat berharga.

Pokoknya seneng banget. Alhamdulillah ya allah.

“Sesungguhnya Aku itu apa yang diprasangkakan oleh hamba Ku”


Alhamdulillah, banyak sekali kebaikan yang Allah berikan kepada aku selama refrat ini, diantaranya:

1. Nilai refrat diberikan tepat pada waktunya, yaitu sebelum minggu ke-10, minggu ujian.

2. Nilai yang bagi ku sangat memuaskan, mengingat yang memberikan nilai itu dr.mecy

3. Sikap untuk selalu berkhuznuzon pada apapu yang diputuskan oleh Allah.

Tidak bermaksud membandingkan, tapi tepat disaat aku mendapatkan nilai dari dr.mcy, teman ku yang mendapatkan dr.yusuf hanafiah pohan masih belum mendapatkan acc dan nilai refrat, padahal refrat yang sudah diacc dan dinilai adalah salah satu syarat ujian. Dan satuhal lagi, nilai yang diberikan oleh dr.yusuf pun tidak setinggi yang diberikan dr. mecy. *Tapi aku yakin, teman ku yang mendapatkan dr.yusuf pun mendapatkan kebaikan, mungkin lebih banyak kebaikan dibandingkan aku. Kebaikan yang sesuai dengan kebutuhan masing2 individu tentunya. Karena Allah selalu tau apa yang kita butuhkan. ^^

17 5 / 2013

"Rasa malas yang mengendap dalam waktu yang lama akan menjelma menjadi kebodohan."

Intan Kirana dalam Prosa Layang-Layang (via kuntawiaji)

08 5 / 2013

"

Kalian tidak akan berhasil meraih cita-cita kecuali kalian bersabar atas apa yang kalian tidak inginkan.

Kalian tak akan sanggup meraih keinginan, kecuali kalian meninggalkan apa yang kalian gandrungi.

"

Khrisna Pabhicara dalan novel Surat Dahlan.

04 5 / 2013

"Jodoh tidak serta merta menjadi dekat hanya karena kamu pacaran, pun tidak akan menjadi sangat jauh hanya gara-gara kamu jomblo"

KEEP IT HALAL, GUYS !

Allah merahasiakan jodoh agar kita mengusahakannya, adalah pilihan kita hendak mengambil jalan yang baik dan penuh ridha atau jalan yang buruk penuh murka

(via kurniawangunadi)